Senin, 30 April 2012

Makalah Budidaya Walet




Disusun Oleh:
Feronika Srikusmini
Wiwis Sudarsono
Edy Permadi
Aswin Kurniawan
Fery Oagay
Risky Suluh K
Amin Nuryanto
Arpisel Kalikit Ndatang


DAFTAR ISI
Daftar Isi...............................................................................................................................i
BAB I PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang.........................................................................................................1
2.    Tujuan.......................................................................................................................1
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
1.    Sejarah Burung Walet..............................................................................................2
2.    Karakteristik Burung Walet......................................................................................2
A.    Perkembangbiakan.............................................................................................2
B.    Jenis-jenis Burung Walet....................................................................................3
C.    Habitat Burung Walet.........................................................................................3
D.    Ekolasi.................................................................................................................3
3.    Potensi Produk..........................................................................................................3
4.    Cara Budidaya Burung Walet...................................................................................3
A.    Persyaratan Lokasi..............................................................................................3
B.    Penyiapan Ssarana yang diperlukan...................................................................3
5.    Pembibitan Burung Walet........................................................................................4
6.    Hama dan Penyakit..................................................................................................6
7.    Panen Budidaya Walet.............................................................................................7
8.    Tahapan Panen.........................................................................................................7
9.    Pasca Panen..............................................................................................................8
10.    Pemberian Pakan......................................................................................................8
BAB III PENUTUP
1.    Kesimpulan...............................................................................................................9
Daftar Pustaka.....................................................................................................................10









BAB I
 PENDAHULUAN
1.    Latar Belakang
Usaha dan pengembangan peternakan saat ini menunjukkan prospek yang sangat cerah dan mempunyai peranan yang sangat penting dalam pertumbuhan ekonomi pertanian. Sebagian besar masyarakat dunia mengakui bahwa produk-produk peternakan memegang peranan yang sangat penting di masa yang akan datang. Walet merupakan salah satu hewan ternak yang sangat potensial untuk di budidayakan karena sarang burung walet mempunyai daya jual yang tinggi sehingga dapat meningkatkan pendapatan.
Oleh, karena itu, kami dari kelompok 4 sangat tertarik untuk membuat makalah tentang “Budidaya Burung Walet”, untuk memenuhi tugas Pengantar Ilmu Peternakan dan sebagai reverensi bagi masyarakat umum.
2.    Tujuan
Adapun tujuan kami membuat makalah Budidaya Burung Walet ini karena, kami merasa budidaya burung walet sangat potensial untuk di kembangkan, dalam makalah ini kami mengupas seluk beluk budidaya burung walet yang meliputi, sejarah burung walet, karakteristik dan jenis burung walet, potensi produksi, perkembangbiakan, penyakit serta pakan














BAB II
PRATINJAU PUSTAKA
BUDIDAYA BURUNG WALET


1.    Sejarah Burung Walet
Burung Walet merupakan burung pemakan serangga yang bersifat aerial dan suka meluncur. Burung ini berwarna gelap, terbangnya cepat dengan ukuran tubuh sedang/kecil, dan memiliki sayap berbentuk sabit yang sempit dan runcing, kakinya sangat kecil begitu juga paruhnya dan jenis burung ini tidak pernah hinggap di pohon.
Burung walet mempunyai kebiasaan berdiam di gua-gua atau rumah-rumah yang cukup lembab, remang-remang sampai gelap dan menggunakan langit-langit untuk menempelkan sarang sebagai tempat beristirahat dan berbiak.
Klasifikasi burung walet adalah sebagai berikut:
                 Superorder : Apomorphae
Order : Apodiformes
Family : Apodidae
Sub Family : Apodenae
Tribes : Collacaliini
Genera : Collacalia
Species : Collacaliafuciphaga

2.    Karakteristik Burung Walet
A.    Perkembangbiakan
a.    Burung walet mempunyai fase berkembangbiak(musim kawin) sepanjang tahun. Musim ini ditandai dengan banyaknya kawanan walet yang saling berkejaran dan mengeluarkan suara tertentu untuk menarik hati lawan jenisnya. Musim kawin biasanya terjadi pada musim penghujan, hal ini dikarenakan populasi pakan yang melimpah pada musim penghujan.
b.    Normalnya, burung walet mengalami masa kawin dua kali setahun. Selain itu, proses perkawinannya terjadi pada malam hari ketika burung walet telah kembali ke sarangnya. Namun sekarang banyak orang yang membudidaya burung walet di dalam gedung –gedung kusus.
c.    Keberhasilan memancing walet juga didukung oleh faktor musim.Musim berkembangbiak adalah waktu yg tepat untuk memancing walet.Normalnya walet berkembangbiak sebanyak dua kali dalam setahun.
 >> Awal pebruari dan awal september walet mulai bertelur
>> Awal-akhir maret dan oktober sebagian walet masih bertelur
>> Mei-juli dan desember-pebruari walet muda mulai terbang
>> Desember-pebruari dan juli-agustus walet muda memasuki fase reproduksi dan     walet muda mulai mencari pasangan dan kemungkinan menghuni tempat baru.Dgn demikian waktu yg tempat utk memancing walet adalah musim hujan sekitar bulan desember-pebruari dan musim kemarau pd bulan juni-agustus.
B.    Jenis-jenis burung Walet ( Spesies )
a.    Walet Sarang Putih ( Aerodramus fuchipagus)
b.    Walet Sarang Hitam ( Aerodramus maximus )
c.    Walet Sarang Lumut ( Aerodramus vanikorensi )
d.    Walet Gunung ( Aerodramus brevirostris )
e.    Walet Sapi (Collocalia esculenta )
f.    Walet Besar ( Hydrochous gigas )
C.    Habitat Burung Walet
a.    Walet mempunyai habitat di daerah gelap (dark zone), daerah yang tidak terjangkau paparan sinar matahari dengan suhu yang relatif stabil(24C – 27C).
b.    Umumnya, burung walet banyak dijumpai di dalam gua-gua alam yang dikelilingi hutan lebat.
D.    Ekolasi
a.    Ini adalah karakter burung walet yang sangat unik. Ekolokasi adalah kemampuan untuk mengeluarkan suara berfrekuensi tertentu (biasanya frekuensi tinggi) secara terputus-putus dan kemudian menangkap kembali pantulan suara tersebut untuk menentukan jarak dan letak sebuah benda. Hal ini memungkinkan walet untuk terbang dimalam hari atau ditempat yang gelap.
b.    Selain untuk menentukan keberadaan sarang walet, burung walet juga menggunakan ekolokasi untuk berkomunikasi seperti memberikan peringatan bahaya kepada burung walet lainnya
3.    Potensi Produk
Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya
(saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapat
bermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan Paru paru panas dalam melancarkan peredaran darah dan penambah stamina
4.    Cara Budidaya Burung Walet
A.    Persyaratan Lokasi
a.    Dataran rendah dengan ketinggian maksimum 1000 m dpl.
b.    Daerah yang jauh dari jangkauan pengaruh kemajuan teknologi dan perkembangan         masyarakat.
c.    Daerah yang jauh dari gangguan burung-burung buas pemakan daging.
d.     Persawahan, padang rumput, hutan-hutan terbuka, pantai, danau, sungai, rawa-rawa merupakan daerah yang paling tepat.
B.    Penyiapan Sarana yang di perlukan
Gedung untuk kandang walet harus memiliki suhu, kelembaban dan penerangan yang mirip dengan gua-gua alami. Suhu gua alami berkisar antara 24-26 derajat C dan kelembaban ± 80-95 %. Pengaturan kondisi suhu dan kelembaban dilakukan dengan:
•    Melapisi plafon dengan sekam setebal 2° Cm
•    Membuat saluran-saluran air atau kolam dalam gedung
•    Menggunakan ventilasi dari pipa bentuk “L” yang berjaraknya 5 m satu lubang, berdiameter 4 cm
•    Menutup rapat pintu, jendela dan lubang yang tidak terpakai
•    Pada lubang keluar masuk diberi penangkal sinar yang berbentuk corong dari goni atau kain  berwarna hitam sehingga keadaan dalam gedung akan lebih gelap. Suasana gelap lebih disenangi walet.
Bentuk dan konstruksi gedung  Umumnya, rumah walet seperti bangunan gedung besar, luasnya bervariasi dari 10×15 m 2 sampai 10×20 m 2 . Makin tinggi wuwungan (bubungan) dan semakin besar jarak antara wuwungan dan plafon, makin baik rumah walet dan lebih disukai burung walet. Rumah tidak boleh tertutup oleh pepohonan tinggi. Tembok gedung dibuat dari dinding berplester sedangkan bagian luar dari campuran semen. Bagian dalam tembok sebaiknya dibuat dari campuran pasir, kapur dan semen dengan perbandingan 3:2:1 yang sangat baik untuk mengendalikan suhu dan kelembaban udara. Untuk mengurangi bau semen dapat disirami air setiap hari. Kerangka atap dan sekat tempat melekatnya sarang-sarang dibuat dari kayu-kayu yang kuat, tua dan tahan lama, awet, tidak mudah dimakan rengat. Atapnya terbuat dari genting. Gedung walet perlu dilengkapi dengan roving room sebagai tempat berputar-putar dan resting room sebagai tempat untuk beristirahat dan bersarang. Lubang tempat keluar masuk burung berukuran 20×20 atau 20×35 cm 2 dibuat di bagian atas. Jumlah lubang tergantung pada kebutuhan dan kondisi gedung. Letaknya lubang jangan menghadap ke timur dan dinding lubang dicat hitam.
5.    Pembibitan Burung Walet
Umumnya para peternak burung walet melakukan dengan tidak sengaja. Banyaknya burung walet yang mengitari bangunan rumah dimanfaatkan oleh para peternak tersebut. Untuk memancing burung agar lebih banyak lagi, pemilik rumah menyiapkan tape recorder yang berisi rekaman suara burung Walet. Ada juga yang melakukan penumpukan jerami yang menghasilkan serangga-serangga kecil sebagai bahan makanan burung walet. Berbicara ekolokasi aatau suara walet  ada juga peternak yang menggunakan suara buatan yang menyerupai suara burung walet, namun jangan salah terkadang walet jga rish dan kabur dari sarangnya akibat suara itu. Untuk menghindari hal itu bsa d cegah dengan mengganti suara setiap bulanya,
a.    Pemilihan bibit, Sebagai induk walet dipilih burung sriti yang diusahakan agar mau bersarang di dalam gedung baru. Cara untuk memancing burung sriti agar masuk dalam gedung baru tersebut dengan menggunakan kaset rekaman dari wuara walet atau sriti. Pemutaran ini dilakukan pada jam 16.00–18.00, yaitu waktu burung kembali mencari makan.
b.    Perawatan bibit dan calon induk Di dalam usaha budidaya walet, perlu disiapkan telur walet untuk ditetaskan pada sarang burung sriti. Telur dapat diperoleh dari pemilik gedung walet yang sedang melakukan “panen cara buang telur”. Panen ini dilaksanakan setelah burung walet membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur walet diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Telur yang dibuang dalam panen ini dapat dimanfaatkan untuk memperbanyak populasi burung walet dengan menetaskannya di dalam sarang sriti.
c.    Memilih Telur Burung Walet
-    Merah muda, telur yang baru keluar dari kloaka induk berumur 0–5 hari
-    Putih kemerahan, berumur 6–10 hari
-    Putih pekat kehitaman, mendekati waktu menetas berumur 10–15 hari
-    Telur walet berbentuk bulat panjang, ukuran 2,014×1,353 cm dengan berat 1,97 gram. Ciri    telur yang baik harus kelihatan segar dan tidak boleh menginap kecuali dalam mesin tetas. Telur tetas yang baik mempunyai
-    kantung udara yang relatif kecil. Stabil dan tidak bergeser dari tempatnya. Letak kuning telur harus ada ditengah dan tidak bergerak-gerak, tidak ditemukan bintik darah. Penentuan kualitas telur di atas dilakukan dengan peneropongan.

d.    Cara menetaskan telur walet pada sarang sriti
Pada saat musim bertelur burung sriti tiba, telur sriti diganti dengan telur walet. Pengambilan telur harus dengan sendok plastik atau kertas tisue untuk menghindari kerusakan dan pencemaran telur yang dapat menyebabkan burung sriti tidak mau mengeraminya. Penggantian telur dilakukan pada siang hari saat burung sriti keluar gedung mencari makan. Selanjutnya telur-telur walet tersebut akan dierami oleh burung sriti dan setelah menetas akan diasuh sampai burung walet dapat terbang serta mencari makan.
e.    Menetaskan telur walet pada mesin penetas
 Suhu mesin penetas sekitar 40 °  dengan kelembaban 70%. Untuk memperoleh kelembaban tersebut dilakukan dengan menempatkan piring atau cawan berisi air di bagian bawah rak telur. Diusahakan agar air didalam cawan tersebut tidak habis. Telur-telur dimasukan ke dalam rak telur secara merata atau mendata dan jangan tumpang tindih. Dua kali sehari posisi telur-telur dibalik dengan hati-hati untuk menghindari kerusakan embrio. Di hari ketiga dilakukan peneropongan telur. Telur-telur yang kosong dan yang embrionya mati dibuang. Embrio mati tandanya dapat terlihat pada bagian tengah telur terdapat lingkaran darah yang gelap. Sedangkan telur yang embrionya hidup akan terlihat seperti sarang laba-laba. Pembalikan telur dilakukan sampai hari ke-12. Selama penetasan mesin tidak boleh dibuka kecuali untuk keperluan pembalikan atau mengisi cawan pengatur kelembaban. Setelah 13–15 hari telur akan menetas.
f.    Perawatan ternak burung walet
Anak burung walet yang baru menetas tidak berbulu dan sangat lemah. Anak walet yang belum mampu makan sendir perlu disuapi dengan telur semut (kroto segar) tiga kali sehari. Selama 2–3 hari anak walet ini masih memerlukan pemanasan yang stabil dan intensif sehingga tidak perlu dikeluarkan dari mesin tetas. Setelah itu, temperatur boleh diturunkan 1–2 derajat/hari dengan cara membuka lubang udara mesin. Setelah berumur ± 10 hari saat bulu-bulu sudah tumbuh anak walet dipindahkan ke dalam kotak khusus. Kotak ini dilengkapi dengan alat pemanas yang diletakan ditengah atau pojok kotak. Setelah berumur 43 hari, anak-anak walet yang sudah siap terbang dibawa ke gedung pada malam hari, kemudian dletakan dalam rak untuk pelepasan. Tinggi rak minimal 2 m dari lantai. Dengan ketinggian ini, anak waket akan dapat terbang pada keesokan harinya dan mengikuti cara terbang walet dewasa.
g.    Pakan burung walet
      Burung walet merupakan burung liar yang mencari makan sendiri. Makanannya adalah serangga-serangga kecil yang ada di daerah pesawahan, tanah terbuka, hutan dan pantai/perairan. Untuk mendapatkan sarang walet yang memuaskan, pengelola rumah walet harus menyediakan makanan tambahan terutama untuk musim kemarau
h.    Pemeliharaan kandang burung walet
       Apabila gedung sudah lama dihuni oleh walet, kotoran yang menumpuk di lantai harus dibersihkan. Kotoran ini tidak dibuang tetapi dimasukan dalam karung dan disimpan di gedung.

6.    Hama dan Penyakit
a.    Tikus Hama ini memakan telur, anak burung walet bahkan sarangnya. Tikus mendatangkan suara gaduh dan kotoran serta air kencingnya dapat menyebabkan suhu yang tidak nyaman.
Cara pencegahan tikus dengan menutup semua lubang, tidak menimbun barang bekas dan kayu-kayu yang akan digunakan untuk sarang tikus.
b.    Semut Semut api dan semut gatal memakan anak walet dan mengganggu burung walet yang sedang bertelur. Cara pemberantasan dengan memberi umpan agar semut-semut yang ada di luar sarang mengerumuninya. Setelah itu semut disiram dengan air panas.
c.    Kecoa Binatang ini memakan sarang burung sehingga tubuhnya cacat, kecil dan tidak sempurna.
Cara pemberantasan dengan menyemprot insektisida, menjaga kebersihan dan membuang barang yang tidak diperlukan dibuang agar tidak menjadi tempat persembunyian
d.    Cicak dan Tokek Binatang ini memakan telur dan sarang walet. Tokek dapat memakan anak burung walet. Kotorannya dapat mencemari raungan dan suhu yang ditimbulkan mengganggu ketenangan burung walet. Cara pemberantasan dengan diusir, ditangkap sedangkan penanggulangan dengan membuat saluran air di sekitar pagar untuk penghalang, tembok bagian luar dibuat licin dan dicat dan lubang-lubang yang tidak digunakan ditutup.
e.    Salah satu metode lain yang sangat efektif untuk menghentikan tikus dan tokek atau serangga lainya masuk gedung walet adalah dengan menambahkan pecahan kaca di seluruh lubang keluar-masuk burung walet sehingga hama-hama tersebut tidak bisa masuk. pecahan kaca juga termasuk mencegah Kelelawar dan burung hantu di dalam gedung walet sangat mengganggu kenyamanan burung walet sehingga menyebabkan walet menjadi takut dan kemudian pergi dari gedung
7.    Panen budidaya burung walet
Sarang burung walet dapat diambil atau dipanen apabila keadaannya sudah memungkinkan untuk dipetik. Untuk melakukan pemetikan perlu cara dan ketentuan tertentu agar hasil yang diperoleh bisa memenuhi mutu sarang walet yang baik. Jika terjadi kesalahan dalam menanen akan berakibat fatal bagi gedung dan burung walet itu sendiri. Ada kemungkinan burung walet merasa tergangggu dan pindah tempat. Untuk mencegah kemungkinan tersebut, para pemilik gedung perlu mengetahui teknik atau pola dan waktu pemanenan. Pola panen sarang burung dapat dilakukan oleh pengelola gedung walet dengan beberapa cara, yaitu:
a.    Panen rampasan, Cara ini dilaksanakan setelah sarang siap dipakai untuk bertelur, tetapi pasangan walet itu belum sempat bertelur. Cara ini mempunyai keuntungan yaitu jarak waktu panen cepat, kualitas sarang burung bagus dan total produksi sarang burung pertahun lebih banyak. Kelemahan cara ini tidak baik dalam pelestaraian burung walrt karena tidak ada peremajaan. Kondisinya lemah karena dipicu untuk terus menerus membuat sarang sehingga tidak ada waktu istirahat. Kualitas sarangnya pun merosot menjadi kecil dan tipis karena produksi air liur tidak mampu mengimbangi pemacuan waktu untuk membuat sarang dan bertelur.
b.    Panen Buang Telur, Cara ini dilaksanankan setelah burung membuat sarang dan bertelur dua butir. Telur diambil dan dibuang kemudian sarangnya diambil. Pola ini mempunyai keuntungan yaitu dalam setahun dapat dilakukan panen hingga 4 kali dan mutu sarang yang dihasilkan pun baik karena sempurna dan tebal. Adapun kelemahannya yakni, tidak ada kesempatan bagi walet untuk menetaskan telurnya
c.    Panen Penetasan, Pada pola ini sarang dapat dipanen ketika anak-anak walet menetas dan sudah bisa terbang. Kelemahan pola ini, mutu sarang rendah karena sudah mulai rusak dan dicemari oleh kotorannya. Sedangkan keuntungannya adalah burung walet dapat berkembang biak dengan tenang dan aman sehingga polulasi burung dapat meningkat
8.    Tahapan dalam Panen Burung Walet
a.    Panen 4 kali setahun, Panen ini dilakukan apabila walet sudah kerasan dengan rumah yang dihuni dan telah padat populasinya. Cara yang dipakai yaitu panen pertama dilakukan dengan pola panen rampasan. Sedangkan untuk panen selanjutnya dengan pola buang telur.
b.    Panen 3 kali setahun, Frekuensi panen ini sangat baik untuk gedung walet yang sudah berjalan dan masih memerlukan penambahan populasi. Cara yang dipakai yaitu, panen tetasan untuk panen pertama dan selanjutnya dengan pola rampasan dan buang telur.
c.    Panen 2 kali setahun, Cara panen ini dilakukan pada awal pengelolaan, karena tujuannya untuk memperbanyak populasi burung walet.
9.     Pasca panen budidaya walet
Setelah hasil panen walet dikumpulkan dalu dilakukan pembersihan dan penyortiran dari hasil yang didapat. Hasil panen dibersihkan dari kotoran-kotoran yang menempel yang kemudian dilakukan pemisahan antara sarang walet yang bersih dengan yang kotor.
10.    Pemberian Pakan
Setiap hari walet dapat mengkonsumsi pakan sekitar 500 jenis serangga yang berukuran 0,2-2,5 mm. Pakan tersebut di dapat dari areal persawahan, kebun, dan lahan yang di tumbuhi tanaman. Kandungan zat pakan yang di butuhkan walet antara lain Protein 55-60%, Energi 4.100 kkal, Lemak 14%, Kalsium 0,15-0,25%, Fosfor 0,4-0,6%, dan serat Kasar 5-8%. Persentase kalsium yang berfungsi sebagai unsur pembentuk tulang lebih sedikit dari pada fosfor menyebabkan kaki walet lemah sehingga hanya bisa menggantung.





















BAB III
PENUTUP
1.    Kesimpulan
Kesimpulan dari makalah kami yaitu, dalam membudidayakan burung walet tidak lah sulit, kita hanya perlu menyediakan tempat  yang tidak terjangkau paparan sinar matahari dengan suhu yang relatif stabil(24C – 27C). Kemudian Hasil dari peternakan walet ini adalah sarangnya yang terbuat dari air liurnya(saliva). Sarang walet ini selain mempunyai harga yang tinggi, juga dapatbermanfaat bagi duni kesehatan. Sarang walet berguna untuk menyembuhkan Paru paru panas dalam melancarkan peredaran darah dan penambah stamina
Hama yang menyerang walet yaitu, Tikus, Kecoa, Semut, Cicak dan Tokek. Pakan alami berupa burung dan berbagai serangga yang ad di alam bebas, namun perlu pakan tambahan seperti Protein 55-60%, Energi 4.100 kkal, Lemak 14%, Kalsium 0,15-0,25%, Fosfor 0,4-0,6%, dan serat Kasar 5-8%. Persentase kalsium yang berfungsi sebagai unsur pembentuk tulang lebih sedikit dari pada fosfor menyebabkan kaki walet lemah sehingga hanya bisa menggantung















DAFTAR PUSTAKA
www.duniawalet.com
www.omkicau.com
www.scribd.com
www.andrapriyadi.com
Susilorini,Tri Eko, 2010. Budidaya 22 Ternak Potensial, Jakarta: Penebar Swadaya


1 komentar: